Jombang, 17 Mei 2026 – Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HIMA PAI) IAI Al-Urwatul Wutsqo Jombang sukses menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Inovasi Pembelajaran PAI Berbasis Kurikulum Cinta di Era Digital”. Kegiatan ini menghadirkan para akademisi dan praktisi pendidikan sebagai pemateri untuk membahas pentingnya menghadirkan pendidikan yang humanis, berkarakter, dan penuh nilai kasih sayang di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.
Kegiatan seminar dibuka secara resmi oleh Ketua Program Studi PAI IAI UW Jombang, Dr. Moch. Sya’roni Hasan, M.Pd.I. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa perkembangan teknologi digital harus diimbangi dengan penguatan nilai-nilai karakter dan akhlak dalam proses pendidikan. Menurutnya, pendidikan Islam memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.
Seminar yang berlangsung dengan penuh antusias tersebut dihadiri oleh mahasiswa, dosen, dan peserta umum yang memenuhi ruang kegiatan. Acara menghadirkan beberapa narasumber, di antaranya Prof. Dr. KH. Mokh Fakhruddin Siswopranoto, M.Pd.I., M.Pd., MM., M.Si., MBA., MBM., Ph.D., DMS., DBA selaku Ketua DPW AGPAII Jawa Timur serta Dr. Hj. Mamik Rosita, M.Pd.I., Ketua Pokjawas PAI Kemenag Kabupaten Jombang sekaligus Ketua LP Ma’arif NU Jombang.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. KH. Mokh Fakhruddin menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital tidak boleh membuat pendidikan kehilangan nilai kemanusiaannya. Menurut beliau, pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga transfer nilai, akhlak, dan keteladanan.
“Di era digital yang berkembang sangat cepat, pendidikan tidak boleh kehilangan ruh kemanusiaannya. Ilmu pengetahuan tanpa cinta dapat melahirkan kecerdasan yang kering nilai, sedangkan teknologi tanpa akhlak dapat membawa manusia pada individualisme, intoleransi, bahkan krisis moral,” ungkap beliau di hadapan peserta seminar.

Beliau juga menjelaskan bahwa melalui Kurikulum Berbasis Cinta, proses pembelajaran diarahkan untuk membangun hubungan yang humanis antara guru dan peserta didik. Guru tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga menjadi teladan kasih sayang, pembimbing karakter, dan penggerak lahirnya generasi yang toleran, nasionalis, serta peduli terhadap sesama dan lingkungan.
“Peserta didik akan lebih mudah mengingat bagaimana mereka diperlakukan dibanding hanya mengingat apa yang diajarkan,” tambahnya.
Sementara itu, Dr. Hj. Mamik Rosita dalam sesi materinya menyampaikan pentingnya membangun pola pikir positif dalam dunia pendidikan. Melalui ilustrasi dua botol yang ditampilkan dalam slide materi, beliau menjelaskan bahwa apa yang keluar dari diri seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang mengisi hati dan pikirannya.
“Jika hati dan pikiran dipenuhi cinta, maka yang muncul adalah tutur kata yang baik, sikap toleran, dan perilaku yang membawa manfaat. Namun jika yang memenuhi diri adalah kemarahan dan kebencian, maka hal itu pula yang akan tampak dalam kehidupan sehari-hari,” jelas beliau.

Menurutnya, perubahan besar dalam pendidikan harus dimulai dari perubahan mindset. Pendidikan tidak cukup hanya membentuk kecerdasan akademik, tetapi juga harus mampu membangun karakter, empati, dan nilai kemanusiaan peserta didik.

Kegiatan seminar nasional ini menjadi salah satu bentuk komitmen Prodi PAI IAI UW Jombang dalam menghadirkan ruang akademik yang inspiratif, inovatif, dan relevan dengan tantangan pendidikan di era digital. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami pentingnya integrasi antara teknologi, pendidikan, dan nilai-nilai cinta dalam proses pembelajaran Islam masa kini.




Tinggalkan Komentar