Jombang (03 September 2026) – Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Al-Urwatul Wutsqo (IAI UW) Jombang menggelar Pembekalan Asistensi Mengajar Tahun Akademik 2026/2027 sebagai bagian dari persiapan mahasiswa sebelum terjun langsung ke sekolah dan madrasah mitra. Pembekalan ini diarahkan untuk memperkuat kesiapan mahasiswa dalam aspek pedagogik, pemanfaatan teknologi pembelajaran, serta etika profesi sebagai calon pendidik.
Asistensi Mengajar menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dengan realitas pembelajaran di satuan pendidikan. Karena itu, sebelum diterjunkan ke lapangan, mahasiswa dibekali sejumlah kompetensi yang relevan dengan perkembangan pendidikan saat ini, mulai dari pemahaman kurikulum, penyusunan modul ajar berbantuan teknologi kecerdasan buatan hingga penguatan kode etik guru.
Kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB dengan check-in peserta dan dilanjutkan dengan rangkaian pembukaan. Setelah itu, mahasiswa mengikuti sesi inti pembekalan yang menghadirkan para pemateri sesuai bidang masing-masing.

Materi pertama disampaikan oleh Dr. H. S. Arifin, M.Pd.I. dengan pembahasan mengenai Kurikulum Merdeka. Dalam sesi tersebut, mahasiswa tidak hanya mendapatkan penguatan mengenai implementasi kurikulum dalam proses pembelajaran, tetapi juga memperoleh wawasan mengenai Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

Pembahasan Kurikulum Berbasis Cinta memberikan perspektif kepada mahasiswa bahwa proses pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian kompetensi akademik. Pembelajaran juga perlu menghadirkan nilai kasih sayang, kepedulian, penghargaan terhadap perbedaan, serta relasi yang humanis antara guru dan peserta didik. Perspektif tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa PAI ketika nantinya berinteraksi langsung dengan peserta didik di sekolah maupun madrasah.

Memasuki sesi berikutnya, Dr. Hj. Mamik Rosita, M.Pd.I. menyampaikan materi Penyusunan Modul Ajar. Tidak hanya membahas struktur dan prinsip penyusunan perangkat pembelajaran, mahasiswa juga dikenalkan pada pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung proses penyusunan modul ajar.

Pemanfaatan AI dalam pembelajaran menjadi salah satu bagian menarik dalam pembekalan tersebut. Mahasiswa didorong untuk mampu mengikuti perkembangan teknologi dan memanfaatkannya secara tepat dalam membantu merancang pembelajaran yang lebih efektif, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Namun, penggunaan AI tetap menempatkan guru sebagai pengendali utama yang melakukan analisis, verifikasi, penyesuaian, dan pengambilan keputusan pedagogis terhadap materi yang dihasilkan.
Selain kompetensi pedagogik dan teknologi, aspek etika profesi turut mendapat perhatian dalam pembekalan. Dr. Moch. Sya’roni Hasan, M.Pd.I. menyampaikan materi Kode Etik Guru sebagai penguatan bagi mahasiswa sebelum memasuki lingkungan sekolah dan madrasah.

Pada sesi tersebut, mahasiswa dibekali pemahaman bahwa keberhasilan Asistensi Mengajar tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyampaikan materi di depan kelas. Sikap, kedisiplinan, tanggung jawab, komunikasi, kemampuan beradaptasi dengan budaya sekolah, serta keteladanan juga menjadi bagian penting dari profesionalitas seorang calon guru. Terlebih, selama berada di satuan pendidikan mitra, mahasiswa tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa nama baik Prodi PAI dan IAI Al-Urwatul Wutsqo Jombang.
Rangkaian pembekalan kemudian dilengkapi dengan penyampaian Buku Pedoman Asistensi Mengajar oleh Sugiyanto, M.Pd. Pedoman tersebut menjadi acuan mahasiswa dalam memahami mekanisme pelaksanaan, tugas dan tanggung jawab, serta berbagai ketentuan yang harus dipenuhi selama mengikuti Asistensi Mengajar.
Melalui pembekalan ini, Prodi PAI IAI UW Jombang berupaya memastikan mahasiswa memiliki kesiapan yang lebih komprehensif sebelum berhadapan dengan situasi pendidikan yang sesungguhnya. Perpaduan antara pemahaman kurikulum, Kurikulum Berbasis Cinta, pemanfaatan AI dalam penyusunan modul ajar, dan penguatan kode etik guru diharapkan membentuk mahasiswa yang tidak hanya cakap mengajar, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi dan memiliki kepekaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan.
Asistensi Mengajar pada akhirnya bukan sekadar kesempatan bagi mahasiswa untuk mempraktikkan cara mengajar di depan kelas, melainkan bagian dari proses pembentukan identitas sebagai calon pendidik. Melalui pengalaman langsung di sekolah dan madrasah, mahasiswa diharapkan mampu belajar memahami karakter peserta didik, membangun komunikasi dengan warga sekolah, menghadapi dinamika pembelajaran, serta mengembangkan profesionalitas sebagai calon guru Pendidikan Agama Islam. Dengan bekal tersebut, Prodi PAI IAI Al-Urwatul Wutsqo Jombang berharap mahasiswa mampu menghadirkan sosok calon pendidik PAI yang profesional, berakhlak mulia, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta mampu memadukan nilai-nilai keislaman, kemanusiaan, dan teknologi dalam praktik pendidikan.







Tinggalkan Komentar